banner 728x250

HSMUN 2026 Latih Pelajar Hadapi Tantangan Diplomasi Global

Konferensi HighScope Model United Nations (HSMUN) ke-18 yang digelar pada 23–24 Oktober 2026.(Foto: dok Ist)
Konferensi HighScope Model United Nations (HSMUN) ke-18 yang digelar pada 23–24 Oktober 2026.(Foto: dok Ist)
# Mbah WP

Warta7.id – Jakarta, 24 Oktober 2026 – Sebanyak delapan dewan simulasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengasah kemampuan diplomasi, negosiasi, dan berpikir kritis dalam konferensi HighScope Model United Nations (HSMUN) ke-18 yang digelar pada 23–24 Oktober 2026.

 

Mengusung tema “Diplomasi dalam Krisis: Mengatasi Isu Global di Tengah Tatanan Internasional yang Terfragmentasi”, konferensi ini diselenggarakan oleh EcoSocioTech School TB Simatupang, yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah HighScope Indonesia. Kegiatan tersebut bertujuan membekali generasi muda dengan pemahaman mengenai isu-isu internasional dan kemampuan mencari solusi melalui dialog serta kerja sama.

HSMUN pertama kali diselenggarakan pada 2008. Edisi ke-18 ini menjadi konferensi perdana yang digelar di bawah identitas baru sekolah tersebut.

Konferensi dibuka pada Jumat (23/10) dengan menghadirkan sejumlah pembicara dari lembaga pemerintahan dan organisasi internasional. Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Cahyo Rahadian Muzhar, menekankan pentingnya diplomasi dalam mengelola perbedaan kepentingan.

“Diplomasi lebih dari sekadar kesepakatan. Diplomasi adalah proses bernegosiasi, berkomunikasi, dan mengelola kepentingan yang saling bertentangan,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal HSMUN 2026, Ravakatya Andra, juga mengingatkan para delegasi tentang pentingnya persatuan, komunikasi, dan kompromi dalam menghadapi krisis global. Ia mendorong peserta untuk berani menyampaikan pandangan sekaligus menghargai perspektif yang berbeda.

“Jangan pernah meremehkan kekuatan perspektif. Suarakan pandanganmu, tegakkan diplomasi,” katanya.

Direktur Kerja Sama Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Erma Rheindrayani Siswoaluyo

Sementara itu, Direktur Kerja Sama Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Erma Rheindrayani Siswoaluyo, menyoroti hubungan antara sains dan diplomasi dalam merespons persoalan global. Menurut dia, sains menyediakan bukti, sedangkan diplomasi membuka ruang kerja sama untuk menghasilkan tindakan bersama.

Senior External Relations Officer Sekretariat ASEAN, Desy Nurmala Dewi, turut menekankan pentingnya keberagaman regional sebagai kekuatan untuk mencapai tujuan bersama melalui diplomasi.

Delapan dewan bahas isu global

Dalam konferensi ini, para peserta dibagi ke dalam delapan dewan yang membahas beragam persoalan, mulai dari keamanan internasional hingga kebijakan pendidikan nasional.

Dewan tersebut meliputi United Nations Security Council (UNSC) yang membahas efektivitas Dewan Keamanan PBB dalam menangani krisis antarnegara adidaya; ASEAN yang mendiskusikan stabilitas jalur perdagangan global di tengah konflik; serta UNHCR yang mengangkat tantangan negara tuan rumah dalam menangani gelombang pengungsi.

Selain itu, UNESCO membahas penurunan literasi media di kalangan anak muda pada era digital, sedangkan WHO berfokus pada penguatan kerja sama internasional untuk mencegah dan menanggulangi wabah pandemi.

Para pelajar EcoSocioTech School

HSMUN 2026 juga menghadirkan United Nations Special Summit (UNSS) dengan simulasi bertema The Spider Society: Kasus Miles Morales, Mencegah Keruntuhan Multiverse. Sementara itu, dewan DPR RI membahas evaluasi kebijakan sistem pendidikan nasional menuju Indonesia Emas 2045, dan Press Corps (UNCA) berfokus pada praktik jurnalisme dalam konferensi.

Dalam setiap sesi, para delegasi mewakili negara atau pihak yang ditugaskan untuk menyampaikan posisi, mempertahankan argumen, bernegosiasi, dan membangun dukungan terhadap rancangan resolusi. Usulan tersebut kemudian dibahas dan diputuskan melalui pemungutan suara dalam sidang pleno.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan upacara penghargaan bagi peserta dalam sejumlah kategori, antara lain Best Delegate, Outstanding Delegate, Honorable Mention, Best Position Paper, Oral Award, dan Best Direction.

Mengembangkan kemampuan berpikir kritis

Melalui simulasi diplomasi internasional, HSMUN 2026 memberikan kesempatan kepada pelajar untuk memahami persoalan global dari berbagai sudut pandang. Peserta juga berlatih menyampaikan pendapat secara terstruktur, menyelesaikan perbedaan melalui negosiasi, dan merumuskan solusi bersama.

Pengalaman tersebut diharapkan dapat membentuk generasi muda yang berpikiran terbuka, kritis, dan mampu berkolaborasi dalam menghadapi tantangan di tingkat nasional maupun internasional.

**Benksu

banner 325x300
banner 120x600
# Mbah WP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *