Warta7.id – Jakarta, 13 Oktober 2026 – Ketertarikan pada dunia robotika sejak duduk di bangku sekolah mengantarkan Samuel Tjahyadi menekuni bisnis mesin pencetak kue dan pengolahan makanan. Berbekal pengetahuan teknologi serta pemahaman terhadap kebutuhan industri pangan, ia mengembangkan mesin yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi produksi, mudah dioperasikan, dan dapat dijangkau pelaku usaha dari berbagai skala.
Minat Samuel terhadap teknologi tumbuh dari lingkungan keluarga. Ayahnya merupakan dosen di Politeknik Negeri Jakarta dan aktif mendorongnya mengikuti berbagai kompetisi robotika tingkat nasional maupun internasional.

Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi Samuel untuk melihat teknologi bukan sekadar sebagai bidang keahlian, tetapi juga sebagai peluang bisnis yang memiliki manfaat luas bagi masyarakat.
Ia kemudian melihat industri pangan sebagai sektor yang menjanjikan. Produksi kue, biskuit, dan roti dalam skala industri maupun usaha kecil membutuhkan dukungan mesin agar proses produksi lebih efisien dan konsisten.
“Kalau kita berbicara tentang ketahanan pangan, banyak produsen makanan yang menggunakan mesin. Di dalamnya ada teknologi, pemrograman, dan robotika,” ujar Samuel.
Dari pemikiran itu, ia mengembangkan usaha mesin pencetak kue dengan mengadaptasi pengetahuan dan teknologi dari Eropa. Mesin-mesin tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan produsen makanan, mulai dari usaha rumahan hingga industri berskala besar.
Satu Mesin untuk Beragam Produk
Salah satu keunggulan yang ditawarkan adalah fleksibilitas penggunaan mesin. Samuel mencontohkan, satu unit mesin dapat digunakan untuk memproduksi beberapa jenis kue, termasuk cookies, cookies dengan teknik two-wire cut, serta aneka cake seperti kue lapis dan sponge cake.
Kemudahan pengoperasian juga menjadi perhatian. Menurut dia, sejumlah mesin yang dikembangkan dapat dibersihkan hanya dalam waktu sekitar 15 menit, lebih singkat dibandingkan mesin lain yang, berdasarkan pengalamannya, dapat membutuhkan waktu hingga satu jam.
Dari sisi ketahanan, Samuel menyebut terdapat pelanggan yang masih menggunakan mesin produksinya hingga berusia sekitar 20 tahun tanpa mengganti sejumlah komponen utama, termasuk bel.
Aspek keamanan pangan turut menjadi pertimbangan dalam pembuatan mesin. Bagian yang bersentuhan langsung dengan makanan menggunakan stainless steel 304, material yang lazim digunakan untuk peralatan pengolahan pangan karena ketahanan terhadap korosi dan kemudahan perawatannya.
“Kita ingin memastikan bukan hanya produsen yang puas, tetapi juga konsumen yang mengonsumsi makanan hasil produksinya,” katanya.

Menjangkau UMKM hingga Industri Besar
Samuel tidak hanya membidik perusahaan besar. Ia juga berupaya membuka akses teknologi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Harga mesin yang ditawarkan bervariasi, mulai dari sekitar Rp100 juta hingga Rp20 miliar–Rp30 miliar, bergantung pada jenis, kapasitas, dan kompleksitas mesin.
Menurut Samuel, sejumlah produsen roti dengan harga jual Rp1.000 hingga Rp2.000 per buah telah menggunakan mesin produksinya. Bahkan, terdapat mesin berukuran relatif kecil yang dapat ditempatkan di lingkungan rumah untuk mendukung usaha rumahan.
Selain menyediakan mesin, perusahaan juga menawarkan dukungan teknis. Pelanggan dapat meminta teknisi datang ke lokasi atau mengirimkan teknisi mereka untuk mengikuti pelatihan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memastikan mesin dapat digunakan secara optimal, sekaligus membantu pelanggan memahami pengoperasian dan perawatannya.
Ekspor ke Sejumlah Negara
Upaya memperluas pasar mulai menunjukkan hasil. Mesin produksi perusahaan Samuel telah dipasarkan ke sejumlah negara, antara lain Korea Selatan, India, Turki, dan Filipina. Filipina menjadi salah satu pasar ekspor yang cukup besar.
Perusahaan juga telah memiliki agen di Jerman dan Australia, meskipun aktivitas penjualannya di kedua negara tersebut belum berjalan optimal.
Samuel mengakui persaingan, terutama dengan produsen mesin dari China, menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Selain itu, perbedaan karakter pasar dan budaya di setiap negara menuntut perusahaan memahami kebutuhan pelanggan secara lebih spesifik.
Menurut dia, perbedaan kebutuhan bahkan terlihat di dalam negeri. Karakteristik produk makanan dan preferensi konsumen di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, hingga Papua tidak selalu sama.
Karena itu, pengembangan produk dan strategi pemasaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasar.
Bertumbuh dari Kebutuhan Pasar
Bagi Samuel, peluang usaha di industri makanan harus dimulai dengan memahami pasar, bukan langsung berinvestasi pada mesin berkapasitas besar.
Ia menyarankan calon pengusaha kue mempelajari produk yang paling diminati di daerah masing-masing, seperti nastar, bolu susu, atau jenis kue lainnya. Setelah menemukan produk dengan potensi penjualan yang baik, pelaku usaha dapat memulai produksi secara sederhana menggunakan peralatan dasar.
“Mulai dari yang kecil, dari satu mixer dan satu oven. Bisa menggunakan cara manual terlebih dahulu. Setelah usahanya berkembang, baru meningkatkan kapasitas dengan menggunakan mesin,” ujarnya.

Namun, ia menilai investasi mesin sejak awal juga dapat menjadi pilihan bagi pengusaha yang telah memiliki perencanaan pasar dan kebutuhan produksi yang jelas.
Dalam proses manufaktur, waktu pengerjaan mesin bergantung pada tingkat kerumitan. Mesin sederhana yang sesuai untuk usaha rumahan dapat diselesaikan sekitar satu bulan, sedangkan mesin lini produksi berukuran besar dapat membutuhkan waktu sembilan bulan hingga satu tahun.
Melalui pengembangan teknologi yang dapat digunakan oleh berbagai skala usaha, Samuel berharap perusahaannya terus berkembang dan semakin dikenal di pasar internasional.
Baginya, keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari keuntungan perusahaan, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan teknologi yang bermanfaat bagi industri pangan dan membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksinya.
**Benksu











